Sejarah
Sejarah Pembangunan SD Katolik Pepageka
Pada awal Agustus 1956, terjadi peristiwa yang luar biasa jika kita meniliknya dari perspektif pemikiran para leluhur kita, yang sering kita sebut dengan Kaka Ama di Lewotanah. Mereka sudah jauh-jauh hari merencanakan masa depan kampung halaman yang kaya akan tradisi, riburatu, dan semangat persatuan. Dengan tekad kuat dan semangat kebersamaan, Kaka Ama dari tiga kampung, yaitu Pepageka, Keluwain, dan Langobelen (Narawaron), bekerja sama dengan Pastor Paroki Hinga, Pater Hendrikus Van Der Hulst, SVD (Almarhum), sebagai wakil Vedapura Dati II Flores Timur, serta Kepala SD Katolik Lambunga, Bapak Guru Toi Fernandez (Almarhum), untuk mewujudkan cita-cita ini.
Pada tahun ajaran 1956/1957, murid kelas 1 SD Katolik Lambunga digabungkan dengan kelas 1 SD Katolik Pepageka dalam sebuah kelas paralel. Murid-murid yang terlibat berasal dari tiga desa: Keluwain, Pepageka, dan Adobala. Pengajaran pertama kali diberikan oleh Ama David Sei Lela (Almarhum) dan Ama Lazarus Kedang dari Lamalera, Lembata. Kegiatan belajar mengajar berjalan lancar di bawah atap Gedung SD Katolik Lambunga, namun semua urusan administrasi dan kebutuhan kegiatan belajar mengajar diatur oleh Bapak Guru Lazarus Kedang. Dana operasionalnya berasal dari iuran murid, dengan setiap murid menyumbangkan dua kelapa setiap minggu selama dua tahun. Sistem ini berlangsung dari tahun ajaran 1956/1957 hingga 1957/1958. Pada tahun ajaran 1957/1958, kelas II SD Katolik Pepageka masih tetap bergabung di bawah atap SD Katolik Lambunga.
Pada awal Agustus 1958, Kepala Sekolah Lazarus Kedang memindahkan murid-murid kelas II dan III ke gedung baru SD Katolik Pepageka. Gedung ini, meskipun masih darurat, mulai digunakan untuk kegiatan belajar mengajar. Bangunannya sangat sederhana, dengan dinding bambu dan atap daun kelapa, serta meja dan bangku yang terbuat dari bambu. Semua ini terwujud berkat gotong royong masyarakat, dengan prakarsa Kaka Ama Lewotanah yang bersatu dalam organisasi POMG (Persatuan Orangtua Murid dan Guru). Pemrakarsa utama yang terlibat dalam pembangunan ini antara lain:
-
Ama Horan Daen / Ama Tagong (Pepageka), dkk.
-
Ama Kia Lasan (Lewulelek/Pepageka), dkk.
-
Ama Pue Tewa (Riangborot/Pepageka), dkk.
-
Ama Ola Masan, Salem Kopong (Riantobi/Keluwain), dkk.
-
Ama Ola Sabon, Ama Boli Kobus (Rianghepat/Keluwain), dkk.
-
Ama Mangu Tadon, Kopong Butu, Japar Bala, Kia Meta (Langobelen), dkk.
-
Dan semua penjasa yang tidak disebutkan satu per satu.
Masyarakat Kaka Ama berusaha keras merangkul seluruh masyarakat (riburatu) untuk saling bahu membahu membangun gedung SD Katolik Pepageka yang lebih layak. Ama Salem Kopong dan Ora Wutun memberikan hibah tanah untuk lokasi pembangunan gedung sekolah.
Pada tahun 1959, masyarakat Lewotanah mulai merencanakan pembangunan lebih lanjut untuk mendapatkan bahan bangunan berkualitas. Salah satu bahan yang diburu adalah kayu Ledo, jenis kayu yang dianggap paling kuat pada masa itu. Kayu Ledo ini hanya bisa ditemukan di Kemerek, Woo, dan Kelepan, dekat Desa Adonara, yang jaraknya cukup jauh dan sulit dijangkau. Meskipun kayu Ledo ini sangat berat, Kaka Ama bertekad untuk mendapatkannya. Dibawah koordinasi Ama Horan Daen, Ama Kopong Butu, dan Ama Ola Masan, masyarakat pria (ama-ama) dibagi dalam kelompok-kelompok yang bergilir setiap minggu untuk memotong kayu Ledo menggunakan kapak dan parang. Setiap kelompok membawa bekal berupa kniki (tuak) dan wata (makanan), yang ditanggung secara bergilir oleh masyarakat. Kayu yang masih basah dan berat itu diangkut dalam tiga tahap, dengan perhentian di Kolilanang, Mangaaleng, dan akhirnya sampai ke SD Katolik Pepageka/Keluwain.
Pada tahun 1960, gedung SD Katolik Pepageka akhirnya selesai dibangun di atas pondasi yang kokoh. Pembangunan gedung ini melibatkan tukang-tukang lokal dari Lewotelo, yang dipimpin oleh kepala tukang:
-
Yakobus Rang Boro (Lewulelek) (Almarhum)
-
Andreas Ola Aman (Pepageka) (Almarhum)
-
Salem Kopong Sili (Keluwain) (Almarhum)
-
Blasius Hopi Raya (Adobala) (Almarhum)
-
Dan lain-lain.
Bangunan baru ini memiliki tiang dari kayu Ledo dan kerangka atas dari balok tapo yang disumbangkan secara sukarela. Dindingnya terbuat dari pelupu (keneka/bambu) yang dibiayai oleh Ama Tagong (Horan Daen), Ama Kia Lasan, dan Ama Kopong Tadon (Kopong Butu). Atapnya terbuat dari daun kelapa dan alang-alang yang dibiayai oleh masyarakat Lewotanah. Dengan kerja keras seluruh masyarakat, pada tahun 1961, gedung baru ini mulai digunakan. Gedung ini cukup tahan lama, meskipun dinding bambunya akhirnya diganti dengan batu bata merah berkat prakarsa Bapak Guru Rafael Ruma Riantobi (Almarhum) dan Bapak Guru Petrus Kotak Pati Rianborot (Almarhum), dengan bantuan siswa SD yang membantu membuat batu bata dan menyusun dinding.
Pada tahun 1966, gedung SD Katolik Pepageka mendapatkan rehabilitasi atap dan plester dinding dengan bantuan dari Pastor Paroki Hinga, Pater Van Der Hulst, SVD.
Pada tahun ajaran 1984/1985, atap sekolah sudah dilapisi dua lapis: di luar menggunakan seng yang sudah berkarat dan berlubang, sementara di dalam, dibuatkan atap baru dari daun kelapa untuk menjamin kenyamanan belajar siswa SD pada siang hari dan SMPS Lewolema pada sore hari. Rehabilitasi ini diprakarsai oleh Kepala SD Katolik Pepageka, Bapak Dominikus Doni Wisok (dari Kolilanang), dan Kepala SMPS Lewolema, Bapak Urbanus Kopong Boli (dari Keluwain), bersama para guru dan siswa.
Pada tahun 1984, Bapak Drs. Fransiskus Siola melakukan survei ke sekolah-sekolah dan merasa sangat prihatin dengan kondisi gedung SD Katolik Pepageka yang saat itu sangat memprihatinkan. Beliau menyarankan bahwa gedung ini harus direhab, karena atap beratap dua sudah tidak memadai.
Kemudian, pada tahun ajaran 1985/1986, SD Katolik Pepageka mendapat rehabilitasi besar-besaran dengan dana sebesar Rp. 16.000.000,00. Gedung yang sudah ada dibongkar total, dari atap hingga pondasi, dan dibangun kembali menjadi gedung baru dengan beton dan atap aluminium setinggi 3 meter. Bangunan ini masih digunakan hingga kini.
Pada tahun ajaran 2001/2002, SD Katolik Pepageka mendapat rehabilitasi tiga ruang kelas dengan dana sebesar Rp. 40.000.000,00 yang dikelola oleh Kepala Sekolah Bapak Siprianus Suban Garak bersama dewan guru dan Ketua BP3 Willibrodus Saka Muli, dengan sistem swakelola.
Pada tahun ajaran 2005/2006, SD Katolik Pepageka kembali mendapat rehabilitasi tiga ruang kelas dengan tambahan satu ruang baru. Dana sebesar Rp. 100.000.000,00 berasal dari DAK (Dana Alokasi Khusus) dan dikelola oleh Kepala Sekolah Maximus Geroda Riantobi bersama dewan guru dan komite sekolah yang dipimpin oleh Urbanus Kopong Boli. Dengan rehabilitasi ini, wajah SD Katolik Pepageka semakin baik, dan lingkungannya semakin asri.
Komentari Tulisan Ini
Halaman Lainnya
Profil
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco l
Visi dan Misi
VISI Terwujudnya komunitas SDK Pepageka yang berkualitas, berdaya saing serta berkarakter mulia berdasarkan nilai-nilai Kristiani MISI Penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas dan t
